Peristiwa

Gelombang Laut Gianyar Kembali Bersahabat, Nelayan Panen Kerapu Premium Diburu Restoran Taiwan dan China

Situasi tersebut membawa angin segar bagi masyarakat pesisir

ortibali.id
ortibali.id
Senin, 22 Juni 2026 • 11:51 WITA 4 mnt baca 137
Bagikan:

GIANYAR, ortibali.id – Setelah hampir satu bulan diterpa gelombang tinggi yang memaksa penutupan aktivitas di sepanjang pesisir Kabupaten Gianyar, kondisi laut kini berangsur normal. Situasi tersebut membawa angin segar bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang kembali melaut dan menikmati hasil tangkapan melimpah dengan nilai jual tinggi.

Sebelumnya, gelombang laut setinggi hingga dua meter menerjang kawasan pesisir Gianyar, mulai dari Pantai Lebih, Pantai Siut, Pantai Masceti, Pantai Purnama hingga Pantai Lembeng. Kondisi cuaca ekstrem tersebut membuat aktivitas wisata pantai dan kegiatan nelayan sempat dihentikan demi keselamatan.

Namun memasuki Hari Raya Galungan dan Kuningan, cuaca laut menunjukkan perubahan signifikan. Ombak yang sebelumnya cukup besar kini kembali normal sehingga aktivitas masyarakat di kawasan pantai kembali dibuka.

Kepala Danton Balawista Gianyar, I Wayan Hermanto, mengatakan pihaknya telah mencabut larangan beraktivitas di kawasan pantai sejak Hari Raya Galungan setelah kondisi gelombang dinilai aman.

“Mulai Hari Raya Galungan kondisi gelombang di pesisir Gianyar sudah normal. Seluruh aktivitas di pantai kembali dibuka. Meskipun demikian, Balawista Gianyar tetap siaga penuh untuk melakukan pengawasan demi keselamatan pengunjung,” ujar Hermanto, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, lonjakan kunjungan wisatawan lokal dan masyarakat terjadi saat Umanis Galungan. Sejumlah pantai favorit di Gianyar dipadati pengunjung yang datang bersama keluarga untuk menikmati suasana pantai sekaligus berburu kuliner khas pesisir.

Pantai Lebih, Siut, Masceti, Purnama hingga Lembeng menjadi tujuan utama masyarakat. Bahkan area parkir di beberapa lokasi sempat tidak mampu menampung kendaraan pengunjung.

“Pada Umanis Galungan kunjungan sangat padat. Sejak pagi masyarakat sudah berdatangan. Area parkir sampai meluber, tetapi situasi tetap terkendali dan tidak ada kejadian yang menonjol,” jelasnya.

Nelayan Kembali Melaut Setelah Sebulan Paceklik

Normalnya kondisi perairan juga dimanfaatkan nelayan untuk kembali mencari ikan. Setelah hampir sebulan menghadapi cuaca buruk dan minim hasil tangkapan, para nelayan kini kembali merasakan hasil laut yang melimpah.

Nelayan Pantai Lebih dan sejumlah nelayan pesisir lainnya mulai melaut sejak dini hari. Mereka yang berani berlayar lebih jauh ke tengah laut berhasil membawa pulang tangkapan ikan kerapu mata lebar dalam jumlah cukup banyak.

Menariknya, hasil tangkapan ikan kerapu tersebut ternyata memiliki pasar khusus yang sangat menjanjikan. Ikan kerapu hasil tangkapan nelayan Gianyar disebut menjadi incaran sejumlah restoran yang menyajikan menu seafood premium bagi wisatawan mancanegara, khususnya asal Taiwan dan China.

“Begitu perahu mendarat, sudah ada pembeli yang menunggu. Ternyata mereka memasok kebutuhan restoran yang menjadikan ikan kerapu sebagai menu unggulan,” kata Hermanto.

Permintaan tinggi membuat harga ikan kerapu di tingkat nelayan cukup menggiurkan. Untuk ikan kerapu dengan berat di atas 500 gram, harga jual mencapai Rp200 ribu per kilogram. Sementara ukuran yang lebih kecil dijual di kisaran Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Penghasilan Nelayan Meningkat Drastis

Dalam sekali melaut, nelayan yang beroperasi di perairan lebih dalam mampu memperoleh antara 8 hingga 20 ekor ikan kerapu. Dengan harga jual yang tinggi, pendapatan nelayan pun meningkat signifikan dibandingkan beberapa pekan sebelumnya saat cuaca buruk melanda.

Kondisi ini menjadi kabar baik bagi masyarakat pesisir yang selama hampir satu bulan mengalami masa paceklik akibat gelombang tinggi.

“Pendapatan nelayan saat ini cukup bagus. Setelah lama tidak bisa melaut maksimal, sekarang hasil tangkapan mulai membaik. Semoga cuaca tetap bersahabat,” ujar Hermanto.

Sementara itu, nelayan yang menangkap ikan di kawasan perairan dangkal juga memperoleh hasil yang cukup menjanjikan berupa ikan tongkol biru. Ikan tersebut dijual dengan harga sekitar Rp35 ribu per kilogram untuk ukuran sedang atau sekitar sebesar lengan orang dewasa.

Rata-rata nelayan mampu membawa pulang sekitar 40 ekor tongkol atau setara 20 kilogram dalam sekali melaut. Hasil tangkapan tersebut sebagian dijual langsung kepada pembeli di pantai, sementara sisanya diolah menjadi ikan pindang untuk menambah nilai ekonomi.

Wisata Pantai dan Perikanan Kembali Menggeliat

Pulihnya kondisi cuaca laut tidak hanya berdampak pada sektor perikanan, tetapi juga menghidupkan kembali aktivitas wisata pesisir di Gianyar. Kehadiran ribuan pengunjung selama masa libur Galungan dan Kuningan menjadi indikator bahwa kawasan pantai kembali menjadi destinasi favorit masyarakat.

Dengan kondisi gelombang yang mulai stabil dan hasil tangkapan ikan yang melimpah, masyarakat pesisir berharap cuaca baik dapat bertahan lebih lama sehingga roda perekonomian di kawasan pantai Gianyar terus bergerak dan memberikan manfaat bagi nelayan maupun pelaku usaha wisata setempat.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan