Peristiwa

Harga Sapi Anjlok, Peternak Resah: “Sudah Berbulan-Bulan Ditawarkan, Tak Ada yang Mau Beli"

Peternak terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pakan

ortibali.id
ortibali.id
Selasa, 25 November 2025 • 18:46 WITA 2 mnt baca 654
Bagikan:

GIANYAR – ortibali.id I Lesunya pasar sapi jantan mulai menjadi keluhan serius di sejumlah daerah, termasuk Gianyar, Bali. Para peternak mengaku kesulitan menjual ternak mereka, meski sudah ditawarkan berbulan-bulan kepada pengepul maupun pedagang.

Di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, situasi ini dirasakan langsung para peternak. Salah satu di antaranya, I Made Niki, mengaku sudah sejak lama menawarkan lima ekor sapi miliknya, namun hingga kini belum ada pembeli.

“Sudah lama saya infokan untuk dijual. Tapi tetap tidak ada pedagang yang menawar. Nihil,” ujarnya dengan nada kecewa, Senin (25/11/2025).

Sementara itu, sebagian peternak terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pakan, meski tidak ada kepastian kapan sapi mereka laku di pasaran.

“Kalau tidak diberi makan, sapi malah kurus dan tambah tidak laku,” keluh seorang peternak lainnya.

Penyebab Penurunan Permintaan

Menurut drh. Arya Dharma, dari UPTD Puskeswan 3 Gianyar, kondisi ini bukan terjadi secara tiba–tiba. Ada sejumlah faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi permintaan pasar.

Beberapa di antaranya:

Penurunan daya beli masyarakat, sehingga konsumsi daging sapi ikut melemah.

Biaya pakan meningkat, mulai dari dedak hingga konsentrat, membuat pedagang lebih selektif membeli.

Modal pedagang tersendat, sehingga pembelian sapi dilakukan secara terbatas dan hanya pada ukuran tertentu.

Kesesuaian jenis dan bobot sapi, sebab pasar hanya mencari sapi yang benar-benar siap potong.

Masuknya sapi impor dan daging beku, yang membuat pasar lokal semakin tertekan.

Belum memasuki musim permintaan kurban, di mana pasar sapi jantan biasanya meningkat tajam.

“Permintaan di luar Idul Adha memang cenderung rendah. Kondisi ini diperparah dengan masuknya daging impor yang harganya lebih stabil,” jelas drh. Arya.

Harga Tak Sesuai Harapan

Selain faktor pasar, selisih harga antara peternak dan pedagang juga menjadi penghalang. Dalam situasi saat ini, pedagang menekan harga serendah mungkin, sementara peternak menilai harga yang ditawarkan jauh di bawah nilai perawatan dan pakan.

“Kalau jual murah, kami rugi. Tapi kalau dipelihara terus, biaya pakan makin besar,” kata seorang peternak lainnya.

Harapan Peternak: Kebijakan dan Solusi Nyata

Para peternak kini berharap pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang bisa menstabilkan harga. Mulai dari subsidi pakan, kontrol impor, hingga pendampingan pasar ternak.

Jika kondisi ini dibiarkan, sejumlah peternak khawatir profesi ini akan ditinggalkan.

“Kami hanya ingin harga yang adil. Kalau sapi tidak laku, kami mau makan apa?” ujar seorang peternak yang enggan disebut namanya.

Untuk saat ini, peternak hanya bisa menunggu: apakah pasar kembali pulih—atau justru semakin memburuk.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan