Pariwisata

“KEDASIN AJA!”: Edukasi Lingkungan Lewat Teba Modern dan Eco Enzyme di SDN 2 Sebatu

sampah organik tidak harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA)

Satya Raditya
Satya Raditya
Kamis, 19 Juni 2025 • 10:59 WITA 3 mnt baca 784
Bagikan:

Gianyar, ortibali.id — Komunitas lingkungan Kedas Lebih Asik berkolaborasi dengan mahasiswa LSPR Bali yang tergabung dalam tim TERRA meluncurkan program edukasi lingkungan bertajuk “KEDASIN AJA!”, Rabu (19/6/2025), di SDN 2 Sebatu, Tegalalang, Gianyar. Program ini menyasar siswa sekolah dasar untuk menumbuhkan kebiasaan mengelola sampah sejak dini.


Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, siswa kelas 4 hingga 6 diajak mengenal cara memilah sampah organik dan anorganik serta mengolah limbah dapur menjadi kompos dan eco enzyme menggunakan metode teba modern.


> “Program ini memberikan dampak positif langsung pada kebersihan sekolah. Mulai dari edukasi pilah sampah, pengolahan di sistem teba modern, hingga pembuatan eco enzyme,” ujar Kepala SDN 2 Sebatu, I Made Waya Arsana.



Ia juga menyampaikan bahwa hasil kompos nantinya akan dimanfaatkan untuk pemupukan di kebun sekolah. Selain itu, siswa juga diharapkan bisa menerapkan pengetahuan ini di lingkungan rumah.


Salah satu siswa, Putu Diah, mengaku baru mengetahui bahwa sampah organik tidak harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).


> “Dengan pengetahuan ini, saya akan sarankan keluarga mengolah sampah organik di rumah pakai teba modern,” ujarnya dengan bangga.


Tim TERRA merancang program ini dengan pendekatan bertahap: pengetahuan, keyakinan, dan tindakan. Pertama, siswa diperkenalkan pada jenis-jenis sampah dan dampaknya terhadap lingkungan. Kedua, mereka ditanamkan keyakinan bahwa tindakan kecil seperti memilah sampah bisa memberi dampak besar. Terakhir, mereka dilibatkan langsung dalam praktik pengomposan dan pembuatan eco enzyme.


> “Anak-anak tidak hanya belajar teori, mereka juga langsung praktik membuat kompos dan eco enzyme. Ini menanamkan nilai tanggung jawab lingkungan secara nyata,” ujar salah satu anggota tim TERRA.


Menurut hasil observasi TERRA, banyak siswa belum memahami pentingnya memilah sampah. Limbah organik dan anorganik sering dicampur dalam satu tempat, sementara tanggung jawab pembuangannya dianggap milik orang lain.


Melalui “KEDASIN AJA!”, siswa dibekali pengetahuan dan keterampilan sederhana untuk mengelola limbah, mulai dari skala sekolah hingga rumah tangga.


Aktivis lingkungan I Wayan Sastrawan, yang akrab disapa Ayin, menyebut sistem teba modern sebagai solusi praktis pengelolaan sampah organik di berbagai lini, termasuk rumah, sekolah, dan fasilitas umum.


> “Lebih dari 68 persen sampah di Bali merupakan sampah organik. Dengan memilah dan menempatkan sampah di teba modern, masyarakat yang memiliki lahan sempit pun bisa mengelola sampah sendiri,” jelasnya.


Ayin berharap sistem ini bisa diterapkan mulai dari lingkungan rumah tangga hingga perkantoran demi menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan secara berkelanjutan.


Kedas Lebih Asik merupakan komunitas yang berdiri pada 16 Mei 2020 di Bali. Mereka dikenal luas melalui aksi bersih-bersih di kawasan suci Pura Besakih dan program Plastic Exchange yang digelar di Banjar Pujung Kaja, Tegalalang, pada 2020 dan 2021.


Kata “kedas” berasal dari bahasa Bali yang berarti “bersih”, sejalan dengan misi komunitas untuk melestarikan lingkungan Bali melalui aksi nyata.

Topik:
Satya Raditya
Jurnalis Orti Bali

Satya Raditya

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan