GIANYAR – ortibali.id, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Sanjiwani (PAMTS) Kabupaten Gianyar memaparkan kinerja sekaligus tantangan pelayanan air bersih dalam Media Briefing Tahun 2026. Di tengah peningkatan jumlah pelanggan dan pendapatan, perusahaan daerah ini mengakui masih menghadapi tekanan serius, terutama pada penanganan jaringan distribusi di tengah kondisi bencana alam yang berdampak langsung pada operasional dan kinerja laba rugi.,
Sepanjang tahun 2025, PAMTS melayani 61.576 sambungan rumah (SR) dengan rata-rata konsumsi pelanggan mencapai 213 meter kubik per SR. Dari sisi pengelolaan, pelayanan teknis masih menjadi beban terbesar dengan porsi 52,19 persen, sementara pengelolaan administrasi tercatat 49,24 persen.
Direktur PAMTS, I Wayan Suastika, Selasa (6/1/2026), menyampaikan bahwa secara umum kinerja perusahaan menunjukkan tren positif dalam lima tahun terakhir. Jumlah pelanggan dan pendapatan perusahaan terus meningkat, bahkan pada tahun 2024 pendapatan PAMTS tercatat menembus lebih dari Rp93 miliar.
Namun demikian, Suastika menegaskan bahwa capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan. Tantangan pelayanan masih cukup berat, terutama dalam menjaga keandalan jaringan distribusi di wilayah Gianyar yang memiliki karakter geografis beragam dan curah hujan tinggi.
“Gangguan jaringan akibat bencana alam masih sering terjadi. Ini berdampak pada kontinuitas pelayanan sekaligus menambah beban biaya operasional,” ujarnya.
PAMTS juga mencatat bahwa proyek infrastruktur berskala nasional dari Kementerian PUPR kerap bersinggungan dengan jaringan pipa eksisting. Kondisi ini tidak jarang memicu kebocoran, gangguan distribusi, hingga penurunan tekanan air di sejumlah wilayah layanan.
Di sisi lain, meskipun perusahaan berhasil menurunkan tingkat Air Tak Berekening (ATR)—indikator penting efisiensi pengelolaan air—tekanan terhadap jaringan lama masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak pipa berusia tua yang rawan rusak dan membutuhkan peremajaan bertahap, terutama saat terjadi cuaca ekstrem atau bencana.
Memasuki tahun 2026, PAMTS menetapkan empat fokus utama program kerja. Pertama, meningkatkan keandalan distribusi air melalui optimalisasi jaringan dan pengendalian tekanan dengan pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV). Kedua, pengamanan sumber air baku untuk menjaga keberlanjutan pasokan dan kualitas air bersih.
Fokus ketiga diarahkan pada perbaikan dan peremajaan infrastruktur jaringan perpipaan. Sementara fokus keempat adalah penguatan layanan pelanggan, termasuk percepatan penanganan gangguan, pemanfaatan komunikasi lapangan melalui perangkat HT, serta pengembangan layanan digital dan kemudahan pembayaran melalui mobile banking.
Dalam pemetaan jam puncak layanan, PAMTS mencatat sebelumnya terdapat 34 titik rawan gangguan, dan kini berhasil ditekan menjadi 8 titik, yang masih menjadi pekerjaan lanjutan pada 2026.
Sebagai langkah mitigasi gangguan, PAMTS menyiapkan berbagai skema penanganan, mulai dari distribusi air melalui mobil tangki, penggiliran aliran air, hingga rekayasa teknis jaringan. Informasi gangguan juga disampaikan secara terbuka melalui media sosial, aparatur desa, prajuru adat, hingga kanal pengaduan dinas, agar masyarakat mendapatkan informasi cepat dan akurat.
“Kami berupaya agar masyarakat tetap mendapatkan air, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun aktivitas sehari-hari, meskipun dalam kondisi darurat,” kata Suastika.
Melalui Media Briefing Tahun 2026 ini, PAM Tirta Sanjiwani menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat transparansi publik, serta menjaga keberlanjutan sistem distribusi air bersih. Namun di sisi lain, perusahaan juga mengakui bahwa tantangan jaringan di tengah bencana masih menjadi faktor krusial yang berpotensi memengaruhi efisiensi dan kinerja keuangan ke depan.sr


