GIANYAR | ortibali.id — Di sebuah sudut Banjar Lodsema, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, aroma kayu menyeruak dari sebuah bale kerja sederhana. Di tempat itulah, I Nyoman Yutdiarta, perajin asal Ubud, menekuni seni pembuatan sarung keris Bali — warisan leluhur yang ia jaga dengan sepenuh hati sejak puluhan tahun silam.
“Kerajinan ini sudah saya tekuni sejak dulu, diwariskan dari ayah saya sejak tahun 1970-an. Saya belajar langsung dari beliau, lalu saya teruskan sampai sekarang,” tutur Yutdiarta saat ditemui, Minggu (19/10/2025).
Bagi Yutdiarta, membuat sarung keris bukan sekadar keterampilan tangan, tetapi juga taksu seni yang menuntut ketenangan, ketelitian, dan rasa. Setiap pesanan memiliki karakter berbeda, tergantung bentuk bilah dan permintaan pemiliknya.
“Saya belajar dari pengalaman dan permintaan pelanggan. Kadang ada yang minta desain tertentu, dari situ saya terus berproses,” ujarnya.
Dalam setiap karya, Yutdiarta menggunakan kayu pilihan seperti areng, pelet timoho, majegau, cendana, hingga sonokeling — masing-masing dipilih dengan cermat agar sesuai dengan karakter bilah keris. Proses pembuatan meliputi penyetelan bagian dalam sarung hingga tahap ukiran yang sarat detail.
“Prosesnya harus sangat teliti. Bagian paling sulit adalah penyetelan, karena di situ dibutuhkan ketenangan dan waktu ekstra supaya tidak ada kelonggaran,” jelasnya.
Ia menjelaskan, sarung keris Bali memiliki struktur dan ornamen khas yang berbeda dari daerah lain. “Kalau di Bali ada bagian-bagian seperti baton poh, kekandikan, sesengratan, pepojongan, dan jejamprahan. Sementara di Jawa dikenal istilah kayaman, ladrangan, dan senamolika,” paparnya.
Satu sarung keris bisa ia selesaikan dalam waktu satu hingga tiga hari, tergantung tingkat kerumitan dan detail ukiran. Meski tampak sederhana, setiap bagian sarung keris menyimpan filosofi mendalam: keseimbangan antara purusa dan pradana, simbol lingga dan yoni.
“Kerisnya melambangkan lingga, sedangkan sarungnya yoni. Jadi keduanya tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.
Kini, di tengah arus modernisasi, Yutdiarta melihat tanda-tanda kebangkitan baru dalam dunia perkerisan. Semakin banyak generasi muda tertarik mempelajari dan mengoleksi keris, membuatnya optimistis tradisi ini tak akan punah.
“Saya senang karena anak muda makin banyak yang hobi dan mau belajar. Harapan saya, mereka tidak hanya punya, tapi juga bisa membuat keris dan sarungnya sendiri,” harapnya.
Dengan ketekunan dan cinta terhadap budaya, tangan Yutdiarta terus mengukir kayu demi kayu menjadi karya penuh makna. Dari bengkel kecil di Lodtunduh, warisan seni perkerisan Bali itu terus berdenyut — lembut namun abadi, menembus waktu dan generasi.sr


